Inspirational Heroes - Gajahmada #3

Gajahmada # 3

Siapa dan dari mana Gajahmada berasal memang masih jadi misteri sampai sekarang. Tidak yang tahu pasti darimana asal-usulnya, sedemikian pula misteriusnya bagaimana dan kemana Gajahmada setelah tidak lagi menjabat Patih di Majapahit.

Demikian ..... Hayam Wuruk yang sudah terpanah asmara jatuh hati dengan Putri Diyah Pitaloka Citraresmi dari Sunda Galuh. Sedemikian mempesonanya sehingga konon utusan dari Majapahit yang ditugasi melukis wajah sang Putri sampai tidak memiliki daya untuk menuangkan kecantikan Putri Sunda itu kedalam lukisannya. Dikirimkanlah utusan dari Majapahit untuk memboyong Putri Sunda ke Majapahit untuk melangsungkan pernikahan di Majapahit. Ikut pula dalam rombongan dari Sunda itu Raja Sunda dan permaisurinya beserta beberapa pengikutnya. Di Majapahit sendiri disiapkanlah penyambutan dan persiapan acara pernikahan sang Raja.

Gajahmada sendiri tidak ikut dalam rombongan penjemput. Dia memilih untuk tinggal di Majapahit. Mungkin hal ini juga kebijakan dari keluarga Raja yang tidak ingin Gajahmada yang sedang dimabuk kemenangan perangnya mengacaukan niat baik ini.

Sampailah rombongan dari kerajaan Sunda Galuh di Majapahit melalui jalur laut dan turun di pelabuhan Ujung yang sekarang berubah menjadi kota Surabaya. Sesampai di pelabuhan rombongan meneruskan dengan menempuh perjalanan darat. Rombongan dibiarkan berjalan sendiri tanpa pengawalan karena regu penjemput yang dipimpin panglima armada laut saat itu diberi tugas untuk kembali berpatroli menyisir wilayah laut Majapahit. Konon beredar isu yang dihembuskan beberapa pihak bahwa rombongan dari Sunda akan terlambat datang, sehingga hal inilah yang mengakibatkan tidak adanya persiapan dan penyambutan dari Kerajaan Majapahit. Rombongan kemudian berhenti di sebuah tanah lapang yang bernama lapangan bubat. Raja dari Sunda Galuh kemudian mengirimkan utusannya untuk mengabarkan kedatangan mereka kepada Pejabat Majapahit.

Utusan Raja Sunda Galuh ini kemudian diterima oleh Gajahmada. Disini kembali Gajahmada menegaskan keinginannya agar Sunda Galuh menyatakan diri dengan sukarela bergabung dengan Majapahit dan memberlakukan Putri Dyah Pitaloka Citraresmi sebagai persembahan bagi Hayam Wuruk, kalau tidak maka akan berhadapan dengan pasukan dari Majapahit. Sebuah keinginan yang mungkin tidak sejalan dengan keinginan Hayam Wuruk sendiri yang berkeinginan mempersunting Dyah Pitaloka dengan cara-cara yang wajar. Betapa marah rombongan dari Sunda Galuh. Mereka merasa harga dirinya diinjak-injak. Mereka tidak terima. Demikian juga sang Putri dia merasa terhina bila hendak dijadikan putri persembahan. Namun Sang Raja Sunda Galuh berusaha menenangkan pengikutnya. Dia mencoba berfikir realistis bahwa sangat sulit menolak kehendak dari Gajahmada yang bukan tidak mungkin akan mengakibatkan kematian bagi para pengikut setianya itu.

Tidak berapa lama pasukan dari Majapahit sudah berada di tepi lapangan bubat dengan senjata lengkap. Mereka siap menunggu perintah dari Gajahmada untuk menggempur rombongan dari Sunda apabila mereka menolak persyaratan yang diajukan oleh Gajahmada. Beberapa tokoh dari Majapahit sudah berusaha menenangkan situasi. Demikian pula Raja Sunda Galuh berusaha menenangkan anak buahnya untuk tidak terpancing emosinya. Situasi yang tidak seimbang ini bisa mengakibatkan rombongan dari Sunda akan mati sia-sia. Mereka tidak siap untuk berperang, karena memang mereka datang untuk acara menikahkan Putri Sunda dengan Hayam Wuruk. Keadaan yang sangat bertolak belakang dengan pasukan dari Majapahit yang dengan persenjataan lengkapnya siap menghancurkan musuh yang ada di depannya.

Situasi kemudian berkembang menjadi diluar kendali. Prajurit-prajurit dari Majapahit yang sudah tidak sabar akhirnya bergerak menggempur rombongan dari Sunda. Sementara rombongan dari Sunda sendiri yang tidak mau harga diri mereka diinjak-injak berusaha sekuat tenaga dengan persenjataan seadanya mempertahankan martabat mereka. Kekuatan yang tidak seimbang pun akhirnya dengan cepat membuat seluruh rombongan dari Sunda tewas terbunuh oleh keberingasan pasukan dari Majapahit dibawah pimpinan Gajahmada. Beberapa pihak dari Majapahit yang berusaha menenangkan pun tidak kuasa mengendalikan situasi yang sedemikian runyam.

Seorang prajurit Majapahit berusaha memberi laporan tentang apa yang terjadi di lapangan bubat kepada Raja. Namun terlambat. Sesampainya di lapangan bubat, Hayam Wuruk tidak bisa mencegah pembantaian itu terjadi. Dia hanya melihat mayat-mayat bergelimpangan di tengah lapangan bubat. Demikian juga sang Putri pujaanya telah berubah menjadi seonggok bangkai kaku tidak bernyawa. Nasi sudah menjadi bubur, pembantaian terlanjur terjadi, banjir darah di bubat. Sebuah peristiwa hitam dalam sejarah Majapahit yang masih dikenang sampai sekarang. Peristiwa yang dilatari ambisi dari seorang Gajahmada untuk menguasai seluruh wilayah nusantara dalam sumpah palapanya yang justru menjadi titik anti klimaks bagi Gajahmada sendiri.

Hayam Wuruk murka, seluruh keluarga Raja Majapahit murka, bahkan seluruh Majapahit murka dan tudingan menunjuk ke satu arah yaitu Gajahmada. Gajahmadalah yang dituding sebagai orang yang paling bertanggung jawab sebagai penyebab terjadinya pembataian keji itu. Setelah melewati persidangan para keluarga Raja maka dikeluarkanlah surat keputusan pemecatan Gajahmada sebagai Mahapatih di Majapahit. Gajahmada terjungkal dari kursi kepatihannya karena termakan oleh ambisi dan sumpahnya sendiri. Akhirnya Gajahmada pergi mengasingkan diri di suatu daerah yang memang sebelumnya sudah diberikan Hayam Wuruk untuk Gajahmada untuk kelak digunakan sebagai tempat peristirahatan Gajahmada setelah pensiun dari jabatannya. Tempat itu kemudian dikenal dengan nama “Madakaripura”. Sebuah tempat di sekitar Probolinggo yang sampai sekarang masih ada dan menjadi tempat wisata karena memang tempat itu sangat indah dengan air terjun dan pemandangan serta hawa pegunungan yang asri.

Sepeninggalan Gajahmada, Majapahit mengalami masalah dengan disintegrasi bangsa. Satu persatu wilayah bawahan berani melepaskan diri. Saat itu Majapahit mengalami kehilangan seorang tokoh pemersatu bangsa, kehilangan sosok yang ditakuti dan disegani sehingga membuat beberapa kerajaan taklukan yang merasa teraniaya berani menunjukan sikapnya dan dengan terang terangan kemudian memisahkan diri dari Majapahit. Mungkin saat pemerintahan Gajahmada mereka takut akan diberangus oleh tentara Majapahit di bawah komando Gajahmada. Namun sekarang tidak ada lagi yang ditakuti sehingga kemudian mereka berani melawan dan memisahkan diri dari Majapahit.

Gajahmada berani bersimbah peluh bertaruh nyawa menyelamatkan Jayanegara dari amukan Rakuti. Dia juga dengan gagahnya menyuarakan persatuan wilayah nusantara dibawah bendera majapahit, bahkan berani membantai rombongan dari kerajaan Sunda Galuh di lapangan bubat. Demi sebuah ambisi mewujudkan Majapahit raya yang besar dan disegani di dunia. Bukan untuk Jayanegara, bukan untuk Raja, bukan untuk dirinya sendiri bukan juga untuk Hayam Wuruk, tapi untuk Majapahit. Untuk negara yang diimpikannya. Untuk sebuah kebesaran Majapahit. Kiranya pepatah tiada gading yang tak retak pantas diberikan kepada Gajahmada. Dengan cukup sempurna dia membangun sebuah kerajaan besar dan kuat bernama Majapahit. Namun ambisi itu justru mendorongnya untuk bertindak melebihi yang seharusnya. Membuat Hayam Wuruk sendiri murka dan kemudian menyingkirkannya. Sumpahnya belum sepenuhnya terlaksana hingga sampai pada akhir hayatnya sekalipun. Itulah sebabnya tidak ada yang tahu kemana dan dimana Gajahmada menghabiskan sisa hidupnya setelah mengasingkan diri. Walaupun sempat kembali dipanggil untuk mengisi kembali jabatan Patih yang kosong ditinggalkannya, tetapi tidak ada cukup literatur dan bukti sejarah yang dapat menjelaskan, dimana Gajahmada meninggal, kemana dan apakah dia memiliki keturunan, sebagaimana misteriusnya asal usul Gajahmada. Ada yang mengatakan dia berasal dari Bali, ada juga yang mengatakan dia berasal dari Kalimantan. Tidak ada yang tahu pasti.

Satu yang patut kita catat dalam kehidupan Gajahmada. Dia berani mengesampingkan kepentingan pribadinya untuk kemajuan dan kejayaan negaranya Majapahit tercinta. Sebuah semangat yang patut kita tiru untuk dijadikan landasan dalam membangun negara kita tercinta Indonesia.

Terimakasih saya ucapkan kepada Langit Kresna Hariadi atas novelnya Pentalogi Gajahmada yang menjadi inspirasi saya dalam menulis cerita ini. Tetap berkarya Bung, kami tunggu karya-karya anda berikutnya. Terimakasih ...............

----------------- End of Inspirational Heroes – Gajahmada ------------

Posted on 4:01 PM by matrix_boy and filed under | 0 Comments »

Inspirational Heroes - Gajahmada # 2



Mengabdi kepada negara tanpa pamrih demi kebesaran dan kejayaan Majapahit, itulah Gajahmada. Dia rela berjibaku bersimbah peluh dan bertaruh nyawa dalam menyelamatkan Jayanegara dari Keserakahan Rakuti. Dia memimpikan Majapahit yang besar dan disegani semua negara didunia. Semangatnya itulah yang mendorong dia mengeluarkan sumpah pada saat dia diangkat menjadi Mahapatih di Kerajaan Majapahit.

“lamun huwus kalah nusantara, ingsun hamukti palapa. Lamun kalah ring gurun, ring seram, ring tanjungpura, ring haru, ring pahang, ring dompo, ring bali, ring sunda, ring palembang, ring tumasek, samana ingsun hamukti palapa”, begitulah kira-kira bunyi sumpah palapa yang dikumandangkan oleh Gajahmada <> kurang lebih mempunyai arti : “ bila sudah kalah nusantara, barulah aku beristirahat. Bila sudah kalah di gurun, seram, tanjungpura, haru, pahang, dompo, bali, sunda, palembang, tumasek, barulah aku akan beristirahat”.
Semangat itu didasari keinginan untuk membentuk sebuah kekuatan yang bisa melindungi Majapahit dari jajahan bangsa-bangsa tartar atau bangsa mongol yang kekuasaanya dan kekuatanya pada waktu itu memang sedang merajalela. Pada masa itu memang bangsa mongol sedang melebarkan kekuasaan ke wilayah nusantara bahkan sampai ke daratan timur tengah. Untuk menandingi kekuatan tentara tar-tar Gajahmada berkeinginan mengajak seluruh bangsa-bangsa di wilayah nusantara untuk bergabung dalam satu bendera yaitu bendera Majapahit. Dengan bersatunya kekuatan di nusantara dia yakin bahwa invasi bangsa mongol dapat di halau.
Dihimpunlah semua kekuatan di Majapahit. Bala tentara Majapahit pun diperkuat. Bukan hanya kekuatan di darat, tapi juga membentuk armada laut yang tangguh. Kerajaan-kerajaan di nusantara diajak bergabung. Kalau bisa diajak dengan cara halus itu lebih baik, kalau tidak Gajahmada tidak segan-segan menggunakan kekuatan militer yang ada untuk menggempur kerajaan itu. Gajahmada menganggap bahwa nusantara akan menjadi kuat apabila berada di bawah satu komando, yaitu dibawah bendera Majapahit. Semakin lama kekuatan Majapahit semakin besar, sehingga nyaris tidak ada satu kerajaan pun dinusantara yang sanggup menandingi kekuatan Majapahit.
Waktu pun berlalu. Majapahit sekarang dipimpin oleh seorang Raja Muda yang bergelar Prabu Hayam Wuruk. Dibawah kekuasaan Prabu Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajahmada kebesaran Majapahit semakin nyata. Majapahit berubah menjadi kerajaan besar dengan wilayah yang meliputi seluruh wilayah nusantara. Dari tanah melayu, sumatra, tumasek yang sekarang bernama singapura sampai tanah sumbawa dan papua. Bahkan wilayah Majapahit sampai ke daerah selatan filipina sekarang. Akan tetapi negara bawahan tersebut tidaklah diperlakukan seperti halnya negara-negara jajahan. Demikian pula Raja dari kerajaan-kerajaan itu. Mereka tidak diperlakukan sebagai tawanan perang akan tetapi tetap diberi kewenangan untuk memimpin wilayahnya, tetapi masih dibawah kepemimpinan dan satu komando dari Majapahit. Begitu luasnya kekuasaan Majapahit hingga pada suatu ketika ....
Hayam Wuruk seorang Raja Muda yang tampan dan gagah, banyak sekali wanita yang jatuh hati kepadanya. Namun sang Raja belum juga menemukan tambatan hati. Berkali-kali putri-putri keraton dari kerajaan bawahan Majapahit diperkenalkan, akan tetapi belum juga ada yang dapat meluluhkan hatinya. Hingga pada suatu hari terdengar kabar bahwa di wilayah Kerajaan Sunda Galuh mempunyai seorang putri yang sangat cantik jelita bernama Dyah Pitaloka Citraresmi.
Secara kebetulan Gajahmada merasa kurang nyaman dengan keadaan dan posisi kerajaan Sunda Galuh. Seluruh wilayah nusantara sudah bergabung di bawah bendera Majapahit, akan tetapi Sunda Galuh yang berada justru di jarak paling dekat dengan Majapahit apalagi masih dalam pulau jawa tetap berdiri sendiri sebagai sebuah kerajaan yang terpisah dari Majapahit. Gajahmada merasa jerih payahnya selama ini belum tuntas apabila Sunda galuh masih belum menyatu dengan Majapahit.
Kedua situasi diatas akhirnya dimanfaatkan. Hayam Wuruk akan dikawinkan dengan Dyah Pitaloka Citraresmi sehingga dengan sendirinya kedua kerajaan ini akan menyatu seiring dengan menyatunya kedua insan itu.
Tujuannya sama, akan tetapi jalan yang ditempuh untuk mencapai sebuah tujuan itu bisa saja berbeda. Demikian juga yang terjadi di Majapahit waktu itu. Kelompok haluan “moderat” beranggapan biarkanlah Hayam Wuruk dikawinkan dengan Dyah Citraresmi dengan cara yang wajar-wajar saja, toh dengan menyatunya kedua insan itu secara langsung maupun tidak langsung maka kedua kerajaan yaitu Majapahit dan Sunda Galuh akan menjadi satu. Sementara kelompok “haluan keras” termasuk Gajahmada beranggapan bahwa Dyah Pitaloka Citraresmi haruslah diberlakukan sebagai putri persembahan untuk Prabu Hayam Wuruk dan Sunda Galuh harus menyatakan diri tunduk dan bergabung di bawah Majapahit. Apabila syarat ini tidak disetujui maka Majapahit akan mengerahkan pasukannya untuk menggempur Sunda Galuh. Gajahmada mungkin lupa atau mungkin tidak menghiraukan bahwa antar keluarga kerajaan Majapahit dan Sunda Galuh masih terikat hubungan kekerabatan. Hal itu lah yang selama ini menjadikan Keluarga Kerajaan Majapahit selalu menolak dan tidak memberikan ijin setiap kali Gajahmada mengajukan keinginan untuk menggempur Sunda Galuh. Gajahmada berpendapat bahwa sudah sewajarnya Sunda Galuh bergabung dengan Majapahit karena posisi Sunda Galuh selama ini sudah diuntungkan dengan semakin kuatnya Kerajaan Majapahit. Sunda Galuh tidak usah repot-repot menyiagakan armadanya untuk mengamankan wilayah lautnya, karena secara tidak langsung wilayah laut Sunda yang berada di dalam wilayah laut Majapahit sudah ikut diamankan oleh armada laut Majapahit, demikian juga dengan lalu lintas perdagangan lautnya. Seharusnya Sunda berterima kasih kepada Majapahit dan sudah selayaknya dengan sukarela menggabungkan diri dengan Majapahit.
Sementara pihak keluarga kerajaan memiliki sifat yang moderat. antara Sunda dan Majapahit masih terjalin ikatan kekeluargaan dari leluhur mereka, sehingga penyatuan dua kerajaan bisa ditempuh lewat jalan yang lebih elegan dan jauh dari tindakan kekerasan yang dapat mengakibatkan pertumpahan darah. Dikirimlah rombongan utusan untuk melamar Putri Diah Pitaloka Citaresmi sekaligus membawanya ke Majapahit untuk dinikahkan dengan Hayam Wuruk. Disini mungkin sudah muncul sedikit ketidak wajaran karena biasanya pihak keluarga mempelai laki-lakilah yang mendatangi keluarga mempelai perempuan dan melangsukan pernikahan di tempat keluarga mempelai perempuan, untuk selanjutnya memboyong sang pengantin perempuan setelah pernikahan itu dilaksanakan, bukan sebaliknya membawa mempelai perempuan dan dinikahkan di tempat mempelai laki-laki.
--- ------ -------- ---------- ------------
---------- -------------------- -------------------- end of Gajahmada episode #2
-------------------------------- ---------------------- tobe continued ----------------
Posted on 10:02 AM by matrix_boy and filed under | 0 Comments »

Inspirational Heroes - Gajahmada # 1

Inspirational Heroes kali ini aku pengen mengulas cerita tentang Gajah Mada.
Gajah Mada, seorang Mahapatih besar dari Kerajaan Besar yang sempat menguasai nusantara, kerajaan Majapahit. Karena kebesarannya dia bergelar “Mahamantrimukya Rakyan Mapatih Mpu Mada”. Dia hidup pada masa Prabu Jayanegara berkuasa, kemudian diangkat menjadi Mahapatih pada saat Majapahit dipimpin oleh 2 Prabu putri yaitu Prabu Putri Tribuana Tunggadewi dan Rajadewi Maharajasa, sampai dengan masa kejayaan Majapahit dibawah Kepemimpinan Prabu Hayam Wuruk.
Awal kariernya, Gajah Mada adalah seorang prajurit yang tergabung dalam kesatuan pasukan khusus Bhayangkara. Pasukan ini berisikan prajurit-prajurit berkemampuan khusus dengan tugas khusus yaitu menjaga keselamatan Raja dan Keluarganya. Awal “prestasi” Gajah Mada terjadi pada saat terjadinya pemberontakan yang dipimpin oleh Ra Kuti. Pada masa pemerintahan Prabu Jayanegara memang sering sekali terjadi pemberontakan, baik yang disebabkan oleh iri, dengki, fitnah dan intrik politik, maupun oleh ambisi pribadi yang merasa tidak puas akan kepemimpinan sang Raja.
Pemberontakan Ra Kuti menjadi pemberontakan yang paling berbahaya yang pernah terjadi pada masa itu. Saat itu Ra Kuti dengan kekuatan yang sudah terorganisir dengan baik berhasil menguasai ibu kota dan memaksa Raja dan keluarganya mengungsi ke tempat yang aman. Gajah Mada yang kala itu merupakan pimpinan kesatuan pasukan khusus Bhayangkara berhasil menyelamatkan Raja dan Keluarganya. Dengan kecerdikannya dan kemampuan yang dimiliki pasukan Bhayangkara, keluarga Raja berhasil diungsikan ke tempat yang aman. Sementara dengan ditemani beberapa anak buahnya dia sendiri berhasil menyelamatkan Prabu Jayanegara. Gajah Mada membawa lari Prabu Jayanegara dan mengungsikannya ke tempat yang jauh dari jangkauan para pemberontak pimpinan Ra Kuti. Semua kekuatan dan dukungan yang masih tersisa berusaha dia kumpulkan. Para ksatria, segenap rakyat dan prajurit yang masih mempunyai loyalitas kepada Majapahit dia kerahkan dan satukan untuk menumpas pemberontak. Dengan dukungan segenap kekuatan yang masih setia kepada Prabu Jayanegara akhirnya pemberontakan dapat di tumpas. Gajah Mada dan pasukanmya berhasil membunuh sang pemberontak Ra Kuti. Itulah awal prestasi yang membuat Gajah Mada diakui keberadaanya dan membuatnya diberi kepercayaan lebih tinggi di Kerajaan Majapahit.
Sepeninggal Prabu Jayanegara, Majapahit di pimpin oleh Raja tepatnya Ratu Kembar yaitu Prabu Putri Tribuana Tunggadewi dan Rajadewi Maharajasa. Pada masa itu masih saja terjadi pemberontakan, akan tetapi dengan intensitas dan dukungan yang lebih kecil sehingga dapat dengan mudah dinetralisir. Tepat pada masa itu juga Gajah Mada diangkat menjadi Mahapatih menggantikan Patih saat itu yaitu Arya Tadah yang pensiun karena sudah dimakan usia.
Pada saat pelantikannya itu keluarlah sumpah yang sangat terkenal sampai sekarang, yaitu Sumpah Palapa. Palapa sendiri sebagian orang mengartikannya sebagai sumpah laku lapa atau sumpah laku prihatin. Sumpah itu mengandung maksud Gajah Mada akan terus larut dalam laku priharin dengan tidak akan merasakan atau ikut menikmati kemewahan dan gemerlapnya dunia sebelum cita-citanya mempersatukan nusantara di bawah bendera Majapahit bisa terwujud. Sumpah ini lah yang nantinya membawa kebesaran Kerajaan Majapahit, dan Sumpah ini juga lah yang pada akhirnya nanti menjungkalkan Gajah Mada Sendiri dari Kursi Kepatihannya.
Kelanjutannya ikuti episode Inspirational Heroes berikutnya ya ... makanya tetep setia di www.matrix-boy.blogspot.com. Inspirational Heroes akan mengulas profil para pahlawan yang menjadi inspirasi bagi hidup ku. Semoga juga bisa menjadi inspirasi bagi pengunjung blog ku semua. Kalo ada cerita or mau berbagi pengalaman silahkan aja kirim email ke sa_porete@yahoo.co.id. OK deh ditunggu yachh ... !!!
Posted on 10:33 AM by matrix_boy and filed under | 2 Comments »

Tentang Gatotkaca


Kali ini aku ingin cerita tentang GATOT KACA
Pasti tahu kan Gatotkaca ? ya ia adalah ksatria dari kerajaan Pringgodani,
Anak dari salah satu tokoh pandawa yaitu Bima atau dikenal juga dengan nama Warkudara.
Waktu kecil Gatotkaca di masukkan dalam kawah Chandradimuka yang menjadikannya seorang ksatria yang gagah perkasa dan sakti mandra guna dengan otot kawat dan tulang besi. Ksatria yang pilih tanding dan sangat ditakuti oleh musuh-musuhnya.
Tapi Gatotkacapun bukan seorang yang tidak bisa dikalahkan. Tahu bagaimana Gatotkaca mati ?
Gatotkaca mati dalam perang besar Baratayuda. Dia menjadi martir untuk membela kepentingan yang lebih besar, demi kemenangan bangsa dan negaranya.
Konon di kubu Kurawa terdapat seorang ksatria yang sangat sakti. Dia masih bersaudara juga dengan para Pandawa. Namanya Prabu Karna, dia memiliki satu senjata pamungkas yang sangat berbahaya. Tidak ada satupun senjata atau orang di dunia ini yang dapat mengalahkan senjata dari Prabu Karna. Namun senjata itu hanya bisa digunakan sekali saja dan tidak bisa digunakan lagi setelahnya. Selama Prabu Karna masih memiliki senjata itu maka posisi Pandawa masih dalam bahaya karena bisa saja dia mengalahkan tokoh inti Pandawa.
Berdasarkan hasil analisis dan persetujuan para Pandawa, maka dianggap perlu untuk mengutus seseorang yang akan digunakan untuk memancing agar Prabu Karna mengeluarkan Senjata Pamungkasnya. Harapannya setelah senjata pamungkas itu keluar maka Prabu Karna akan dengan mudah dikalahkan. Namun resikonya sangatlah besar. Orang yang terkena Senjata Pamungkas itu pasti akan mati karena tidak ada satupun senjata yang dapat digunakan sebagai penangkalnya.
Gatotkaca sebagai seorang ksatria merasa terpanggil. Demi kajayaan dan kemenangan Pandawa dia bersedia maju sebagai martir, walaupun dengan resiko kematian. Dengan kesepakatan para Pandawa Gatotkaca pun di utus untuk melaksanakan tugas maha berat ini.
Saat yang ditentukan telah tiba. Gatotkaca menantang Prabu Karna di tengah berkacamuknya perang Baratayuda. Awalnya Prabu Karna tidak menggubris tantangannya. Dia merasa tidak ada untungnya meladeni tantangan dari bocah kemarin sore. Secara silsilah Keluarga Gatotkaca memang masih keponakan dari Prabu Karna. Dia tidak mengindahkan tantangan dari Gatotkaca yang di telingaya terdengar seperti rengekan anak kecil yang meminta kembang gula ke orangtuanya. Prabu Karna tetap asyik dalam perangnya sendiri.
“Paman Prabu Karna, kemarilah. Ini keponakanmu Gatotkaca ingin menjajal kekuatanmu”. “Banyak orang bilang bahwa paman adalah ksatria pilih tanding dan tidak terkalahkan, tapi apakah kau bisa mengalahkan aku Gatotkaca, ksatria dari pringgadani. Otot kawat dan tulang besi ku sangat penasaran ingin menjajal kesaktianmu”, Gatotkaca coba memancing.
“Pulanglah anakku, aku tidak ada urusan denganmu, lagipula aku tidak ada waktu untuk bermain-main denganmu”, ucap Prabu Karna menanggapi sesumbar Gatotkaca.
Mendengar “rengekan” dari Gatotkaca yang semakin memerahkan telinga akhirnya Prabu Karna tidak tahan juga. Akhirnya dia meladeni permintaan Gatotkaca untuk berduel. Karena kedua ksatira itu memang sangat sakti, duel itupun berlangsung seru. Saling serang dengan jurus-jurus andalan berlangsung silih berganti. Jurus dan senjata dari Prabu Karna dengan mudah dipatahkan oleh Gatotkaca, yang memang sangat Sakti. Demikian juga serangan berbagai ajian dari Gatotkaca bisa dipatahkan dengan mudah oleh Prabu Karna.
Ditengah-tengah duel Gatotkaca tidak henti-hentinya meracau mengumbar sindiran-sindiran kepada Prabu Krana. “Ah ternyata Cuma ini kesaktian dari Prabu Karna yang terkenal itu. Aku seperti sedang bermain dengan anak bayi. Tidak adakah jurus dan senjata yang lebih berbahaya yang bisa menembus jantungku ?, bahkan senjatamu sama sekali tidak bisa menggores kulit ku, mana kesaktianmu yang lainnya,” Gatotkaca coba memancing.
Prabu Karna berusaha untuk tidak terpancing. Dia masih merasa belum perlu terlalu serius meladeni permintaan “bermain-main” dengan keponakannya itu. Diapun hanya meladeni serangan-serangan dari Gatotkaca dengan sekedarnya saja.
Semakin lama serangan dari Gatotkaca semakin membuat Prabu Karna terdesak. Dia baru sadar bahwa keponakannya memang ksatria yang tidak bisa dianggap remeh. Berkali-kali serangan dari Gatotkaca nyaris membahayakan dirinya. Demikian juga mulut Gatotkaca tidak henti-hentinya ‘nyerocos’ memerahkan telinga. Selanjutnya pertarungan semakin seru. Kedua ksatria itu pun semakin serius menghadapai lawan. Jurus dan senjata yang semula hanya alakadarnya meningkat ke jurus-jurus dan senjata yang lebih mematikan. Terlebih lagi Gatotkaca pandai memprovokasi musuhnya itu dengan kata-kata yang pedas.
“Tidak ada lagi kah senjata yang kau punya paman Prabu ? senjata dan jurus-jurus mu itu tidak ada apa-apanya. Mana senjata pamungkasmu yang katanya bisa mengalahkan siapapun dan tidak ada yang dapat menandinginya, keluarkanlah aku ingin merasakannya. Aku sudah lelah bermain dengan mu Paman, aku ingin mengakhirinya dan ingin sekali membunuhmu. Keluarkanlah senjata pamungkasmu sebelum aku membunuhmu”, ujar Gatotkaca terus mencoba memprovokasi mushunya.
Menyadari keadaanya semakin terdesak oleh serangan-serangan dari Gatotkaca, dan di dukung oleh sesumbar Gatotkaca yang memerahkan telinga, Prabu Karna akhirnya tersadar. Dia dihadapkan pada dilema. Dia tidak ingin mati terlalu dini dimana perang masih berlangsung untuk waktu yang masih lama, apalagi mati ditangan keponakannya yang dia nilai masih anak kemarin sore. Disisi lain dia tidak ingin kehilangan senjata pamungkasnya. Perang masih panjang, dan musuh-musuhnya masih berat-berat.
Akhirnya terdorong untuk memenangi duel dengan Gatotkaca, dikeluarkanlah senjata pamungkasnya. Gatotkaca sudah menyadari hal itu dan sudah siap merasakan terjangan dari senjata pamungkas Prabu Karna yang tidak terkalahkan itu. Senjata itu melesat menerjang tubuh Gatotkaca. Sekuat daya dan upaya Gatotkca mengeluarkan semua kesaktiannya untuk menangkal senjata itu. Akan tetapi benar adanya, bahwa senjata itu memang tidak terkalahkan. Senjata itu menembus merobek dada dan menghancurkan jantung sang Gatotkaca. Ksatria Pringgadani itupun gugur dalam tugasnya.
Namun kematian dari Gatotkaca tidak sia-sia. Prabu Karna yang sangat sakti itu harus kehilangan senjata pamungkasnya. Kini dia tidak lagi memiliki senjata yang sangat diandalkan untuk memenangi perang Baratayuda yang masih panjang dan seolah tidak berujung. Dengan hilangnya senjata pamungkas Prabu Karna itu, maka dia akan dengan mudah dikalahkan oleh Ksatria-ksatria dari Pandawa.
Gatotkaca gugur, namun kematianya untuk kepentingan yang lebih besar, yaitu untuk kemenangan dan kejayaan Bangsanya.
Siapa yang kemudian berhasil membunuh Prabu Karna ? nanti dulu, aku buka kamus dulu. Tunggu Posting Edisi selanjutnya. Tetap stay tune di http://www.matrix-boy.blogspot.com/. OK !
Posted on 9:26 AM by matrix_boy and filed under | 0 Comments »

Metallica Death Magnetic

Bro & sist semua ...
Edisi posting kemarin dah aku kasih video clip lagu lawas dari Metallica The unforgiven, sekarang giliran lagu dari album terbaru Metallica "Death Magnetic" dengan lagunya The Day That Never Comes aku suguhin. Metallica salah satu group band favorit aku. Moga aja lagu ini juga bisa disukai bro & sist semua yang masuk ke blog ku. Kalo ada request movie, music or lifestyle info lainnya masuk aja ke www.matrix-boy.blogspot.com. sekalian kalo ada komen, cacian or makian silahkan masuk asal yang sopan yachh ... itung-2 nambah temen & sodara. OK bro & sist smua, selamat menikmati -emang makanan- suguhan yang satu ini. Check it out
Posted on 1:36 PM by matrix_boy and filed under | 0 Comments »

elvis presley blue suede shoes color

Amazon Affiliates